Trip ke Ujung Barat Indonesia, Pulau Weh (Part 2: Banda Aceh-Sabang-Iboih)

Rencana untuk ke mesjid Jameek harus dibatalkan karena kami bangun kesiangan, jadi kami langsung ke airport dengan taxi hostel (flat rate RM 100) lebih murah dan nyaman dibanding LRT dan KL Express.

Sampai di Banda Aceh sekitar 12.30pm, antrian di Imigrasi sudah lumayan panjang karena counter “Indonesian Passport” yang dibuka hanya 1 belum lagi posisinya yang tepat dibawah eskalator sehingga memblock orang yang turun. Antrian baru bergerak setelah counter dibuka 2, sepertinya letak Imigrasi ini perlu dipindahkan agar posisinya tidak langsung dibawah eskalator jadi antrian akan lebih teratur.image
Setelah deal dengan harga sewa mobil (Rp. 200.000 untuk 3 jam), bang supir membawa kami makan siang di warung makan “Aditya-Balean” tidak jauh dari bandara yang pengunjungnya lumayan ramai (berarti enak, iyakan?) dan di tempat inipun bang supir masih sibuk melayani kami (jadi risih sih sebenarnya).

image

Sebelum ke pelabuhan Ulee Iheue, kami akan mengunjungi kuburan massal Siron dan PLTD Apung. Di kuburan massal ini dikuburkan sekitar 46.718 korban tsunami, terdapat saung-saung untuk tempat berdoa dilengkapi dengan buku-buku doa bagi orang-orang/keluarga.image image
PLTD Apung merupakan kapal generator listrik milik PLN yang terdampar ke daratan waktu tsunami dan karena biaya untuk menderek lebih besar dari biaya untuk mendapatkan kapal baru maka kapal tersebut dibiarkan dan dijadikan sebagai “monumen” tsunami. image image
Kami sampai di Ulee Iheue sekitar jam 15.30, setelah membeli tiket kami diantar ke kapal (niat iseng godain yang jaga, eh malah diantar beneran bahkan diberi no handphone kalo ada masalah dengan tiket 2 way kami). Kami naik kapal cepat (sekitar 45 menit) kelas Executive (Rp.75.000), kelas ekonomi dan bisnis habis dan untuk kedua kelas ini kursinya terbatas jadi bisa saja kita beli tapi duduk di tangga, anjungan belakang kapal atau berdiri dan sekitar 16.05 kapal beragkat ke pelabuhan Balohan, Sabang. image
Dari pelabuhan kami menyewa mobil ke Iboih tetapi kami akan singgah di pusat kota Sabang dan juga makan sate gurita di Sabang Fair.
image

image

image
Dari pusat Iboih “Teupin Layeu” kita harus berjalan sekitar 15 menit ke homestay O’ong (tidak jauh dari hotel Iboih Inn dan juga Yulia) dengan jalanan agak sedikit menanjak, tidak ada lampu jalan jadinya agak gelap (kami sampai sekitar jam 7 malam). Kamarnya bersih & luas, langsung menghadap pantai sehingga kita bisa mendengar suara ombak mengempas bebatuan dan sebagai pelengkap didepan kamar juga disediakan ayunan kain buat bersantai. Mari kita tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s