Europe, Die Die Must Go (Part 1:Singapore-Paris-Lyon)

Trip panjang ini hanya diarrange beberapa bulan sebelum keberangkatan, karena tiba-tiba mendapatkan tawaran yang menarik dari seorang teman. Sempat ragu untuk berangkat karena ijin kerja sudah hampir habis dan saya berniat untuk resign (cost untuk trip ini pasti tinggi) ditambah saya belum punya teman untuk ngetrip.

Ditengah keraguan Rina mengconfirm ok, ditambah teman yang di Paris ikutan membuatku galau diantara “ya” dan “tidak” dan dukungan si boss yang memberi cuti panjang, bahkan suggest untuk ambil 1 bulan (“sogokan” biar tidak resign) dan visa kerja diperpanjang 6 bulan (padahal aku hanya bekerja 3 bulan lagi) jadilah aku memutuskan untuk pergi, I am coming Europe)

Tidak ingin “rugi” dengan tiket ke Eropah yang mahal, saya menyusun itinerary yang sangat padat bahkan teman saya bilang “itinerary gila”, sehingga “terpaksa” aku revisi tetapi tetap “tidak diapprove” olehnya karena takut kami akan terlalu kelelahan dan jatuh sakit tetapi aku ngotot untuk mempertahankan itinerary yang terakhir (keberatan dengan itinerary yang ia suggest yang mendiskon banyak tempat), saya ngotot bahwa kami kuat,sehat, bla…..bla…, meminjam istilah singlish “die die must go” akhirnya ia pun mengalah.

PR terberat adalah menyusun fix itinerary, connecting transportasi murah antara kota dan negara (cost dan waktu menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi kami). Untunglah the power of internet sangat membantu, 1 bulan sebelum keberangkatan, visa, fix itinerary,transportasi done bahkan banyak yang sudah kami beli karena membeli jauh-jauh hari kita bisa mendapatkan harga yang sangat murah.
image
Setelah  perjalanan panjang, Air France mengantarkan kami di Charles de Gaulle , Paris.  Dengan rasa exciting yang mengalahkan rasa lelah dan jetlag, kami melewati proses Imigrasi dengan lancar walaupun agak sedikit tersesat untuk menemukan lokasi Imigrasi tersebut, entah kami yang tidak ahli dalam membaca signboard yang ada atau memang petunjuknya kurang jelas. Antrian Imigrasi sudah sangat panjang, untungnya kami bertemu dengan keluarga kecil Indonesia yang sedang liburan, sehingga kami mendapatkan prioritas untuk process imigrasi. Thanks to rule yang memberikan prioritas pada keluarga yang membawa balita, sehingga kami bisa ikut “nebeng” fasilitas tersebut.

Udara dingin masih menusuk tulangku, walaupun aku sudah menggunakan jaket tebal, musim dingin belum berlalu, suhu udara masih dibawa 10 derajat. Airport masih begitu sepi, toko toko masih banyak yang tutup, padahal kami masih harus menunggu beberapa jam sebelum jam keberangkatan kereta ke Lyon. Ah, untunglah ada coffee corner yang sudah buka, segelas coffee panas dengan sepotong roti rasanya sangat pas walaupun kami agak berat untuk membayarnya, karena harganya yang begitu mahal menurut kantong kami.

image

image

Sambil menunggu waktu keberangkatan train dari Paris de Gaulle train station menuju Lyon (train stationnya berada di aiport) iseng iseng saya mengecek harga tiket keberangkatan pada jam yang sama dan harganya sudah naik hampir 3 kali lipat, huufffff, what a luck we bought it earlier. Di train station yang di airport memiliki ruang tunggu yang heaternya lumayan hangat.

Setelah 2 jam perjalanan dengan kereta cepat TGV, kami tiba di Lyon, Rita dan Phillip sudah datang menjemput. Selama perjalanan ke rumah kami seperti orang kampung masuk kota, terpesona melihat lingkungan yang benar-benar berbeda, semua bangunan bergaya Eropah (lah iya lah, wong di Eropah). Setelah acara kangen-kangenan kami harus packing untuk start explore Eropah rute pertama (padahal masih jetlag dan adaptasi dengan musim dingin disini).

Walaupun udara diluar dinginnya setengah mampus, kami masih nekat keluar untuk dinner di salah satu restoran dikawasan/area…….Kami berusaha berjalan agak cepat berusaha mengalahkan rasa dingin, ingin masuk cepat-cepat ke ruangan dengan heaternya untunglah tidak perlu berjalan jauh dari parkiran.
image

Restaurant tempat kami makan sangat unik, didesign dengan konsep “traditional” dari papan tapi bergaya modern.

image
restaurant interior

Mengenai makanan aku serahkan ke Phillipe untuk memilih, soalnya nggak ngerti menunya.
Perjuangan melawan dingin untuk kembali ke rumah dimulai lagi…gambate.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s